Monday, July 11, 2016

It doesn’t give any meaning by now

Sudah sekian lama rasanya aku tidak meluahkan minat dalam bidang sastera menerusi bentuk penulisan, apatah lagi yang melibatkan bahasa lidah sendiri. Bener kata manusia sekeliling, we work better under pressure. Karena pressure yang menusuk sehingga ke modula oblongata ini yang mendorong tangan-tangan kecil ku untuk petah berbicara.

Kesempatan melawat Jogja tempoh hari memang aku guna puas-puas untuk ke toko buku berdekatan. Jogja memang di kenali dengan hasil seni khususnya dari segi sastera penulisan. Teriak aku kuat-kuat tatkala mendapatkan beberapa judul buku yang selari dengan naluri diri ketika ini.

Jadi, sore tadi aku belek-belek hasil tuaian. Sambil meletakkan beberapa kepingan cookies ke dalam piring leper berserta air daun hijau panas, aku melayan sejenak perasaan. 

Apa yang berbeda ketika ini, jiwa aku tidak terikut-ikut akan hasil penulisan mereka. It doesn’t give any meaning by now. 

Memang bener, masa akan merubah segalanya. Dahulu, ternyata aku tak termampu melawan tuntutan alam , lalu hanyut bersama perasaan minda.

Beberapa purnama sudah berlalu, musim tak menunjukkan tanda-tanda akan kembali. Biar ia jadi kenangan, seperti apa yang aku selalu pinta. 

Wednesday, June 29, 2016

Weekend Conversation

My weekend conversation with a friend of mine:

F: How's ya weekend?
Me : Nothing much. I head into the city. Catch a latest movie alone and photographed things around.

F: There's probably a much!
Me : *Goofy Emoji* and yours?

F: Went out of the city and had a coconut milkshake. We had fun!
Me : Who's "we"?
F: Why?
Me : I know you feel like you finally belong, but that isn't the point.You won't be there long

F: What do you mean?
Me : Wait, so who's that people exactly?
F: I'm waiting for something interesting to happen.
Me : This is your problem, that you should solve! (considering the fact that he dated so many people in the past)

F : Well, I guess I'm doing better than you.
Me : What's about me?
F : Waiting someting to be happened, at least I'm find my way to it.
Me : another *Goofy Emoji*

F : So you messed up, still messed up.
Me : It's a little bit bigger than messing up.
F : Than what? Than whatever blew up these entire months? There's always a bad story in relationship.
Me : I wasn't in relationship!

F : And the worst is, you're so eager to belong, you even forget why you're here.
Me : I knew that person would come, but I swear I didn't know so soon.

Wednesday, June 15, 2016

Hari Bosan

Setiap dari kita berbeza pendapat mengenai satu ikatan. Begitu juga kau dengan aku.

Bagi aku, definasi ikatan adalah untuk bersama dengan aku ketika hari-hari bosan. Jika kau bersedia menerima ruang bosan yang aku cipta, jadi aku bersedia untuk meletakkan kau ke dalam ruang itu.

Juga bagi aku ikatan dapat di terjemahkan kepada companion. Sudah aku buang jauh-jauh ego aku di saat aku meletakkan kau ke dalam priority list.

Dan yang paling utama, untuk membawa kau kepada dunia pengembaraan aku. Kau juga mengerti akan taksubnya aku untuk keliling satu dunia. Jika kau ikut serta, banyak pengalaman hidup yang akan kita belajar dan kutip.

Mungkin pada satu hari kau akan datang dan bertanya pada ku, apa rencana kita hari ini?

Aku hanya akan menjawab ‘I just want to sit on the couch and having lemonade with you’

Karena hari-hari bosan aku tidak akan bosan karena kau. Karena rutin hidup yang terikat antara kita.

Mudah bukan?

Monday, June 13, 2016

Jangan Sungguh-Sungguh

Aku malas berpikir.

Karena apa yang menjadi rungsing kemungkinan berpunca dari aku yang selalu terlebih berpikir.

Aku cemburu menjadi kamu.

Yang kelihatan mudah dan bersahaja.

Bahkan sejak hari pertama juga kau seperti tidak merasai akan anjakan yang aku perolehi.

Kau lupa.

Anjakan ini yang kau cipta dulu.
Anjakan ini juga yang berikan pada aku.
Anjakan ini juga harapan yang kau janjikan dulu.

Mungkin benar kata sesetengah dari kita.

Jangan sungguh-sungguh dengan mereka yang anggap kau biasa-biasa.

Jadi aku ambil keputusan untuk pergi walau kau kelihatan seperti mau meneruskan.

Jika kau berniat mau aku bahagia seperti apa yang kau selalu ungkapkan, kau juga harus pergi.

Pergi dan jangan pernah untuk kembali.

Wednesday, June 8, 2016

RIN

Aku tau saat itu kau telah membenarkan aku berada di hati kau.

Bahkan, kau admit, I’m happy!

Happy setelah pertemuan pertama kita tadi.

Selang beberapa hari, kau mengirim pesanan, Rin,ketika aku sudah hanyut di buai mimpi.

Mungkin ini diri kau.

Gemar menyembunyikan apa yang terbuku di hati.

Bahkan, pernah beberapa kali kau memberitahu yang kau rindu padaku, mesti bukan perkataan rindu itu sendiri kau catitkan.

Can I call you right before and after my sleep? Pinta kau padaku pada suatu malam.

Itu tandanya kau rin padaku.

Hebat, karena kau bisa menyembunyikan perasaan kau terhadap ku.

Tapi aku lagi hebat, karena aku bisa membaca perasaan yang kau cipta itu.

Bulan

25th December 2015

Salam Mailudur Rasul, pesan ku, dan kau membalas yang sama.

Ketika itu aku sedang liburan bersama famili di Port Dickson. Sengaja aku berjalan-jalan, mengambil udara dan ruang sendiri malam itu. Walaupun pemandangan yang di jamahi ini tidak begitu indah.
Lantas, aku terpikir untuk menghantar pesanan pada kau. 

Itupun, setelah aku berkira-kira kita tidak berhubungan selama beberapa hari. Itu bukan isunya, ketika itu hati ini bukan mutlak untuk kau. Aku yakin kau juga berpendapat sedemikian. Jadi tidak ada apa yang salah jika kita tidak berhubungan seketika.

Hafiz, tengok bulan! Kau menyambung pergaulan kita.

Pertama kali dalam seumur hidupku, aku disuruh menatap bulan.

Ya, bulan penuh malam ini, balas ku.

Aku jadi kurang mengerti apa yang tersirat di hati kau ketika itu.

Cuma yang aku paham, kau rindu padaku, setelah berhari-hari kita tidak berhubungan.

Mengapa tidak kau luahkan saja rasa itu.

Mengapa mesti menjadikan bulan sebagai simbolik kepada perasaan itu?

Friday, June 3, 2016

Tokyo

3rd February 2016.

Morning Hafiz. Safe flight to Tokyo. Have fun and take care (diikuti emoji senyum).

Lebih kurang begini pesanan yang kau kirimkan setelah hampir 48 jam kita jadi renggang.

Bagi kau, ini memang kesilapan besar yang aku lakukan kerana bertindak terlalu awal dari apa yang kau rencanakan.

Bagi aku, ini jalan yang paling sesuai karena aku tidak mau berpelesaran tanpa sebarang persetujuan.

Bagi kau lagi, kita memerlukan masa lebih lama untuk merentas perjalanan hubungan ini.

Dan bagi aku lagi, kita akan bergerak seiring dengan masa dan ketentuan yang maha esa.

Jadi, kenapa mau berahasia?

Walaupun fisik ku wujud di bumi Tokyo, namun pikiran ku tetap melayang ke Malaysia.

Apakah kau rasa aku mampu menghabiskan sisa-sisa percutian ini, tatkala kau cuba menghapuskan bayanganku dari mindamu.

Aku rasa bersalah kerana tidak jatuh cinta pada Tokyo ketika itu.